Jumat, 21 Agustus 2009


Delapan Puisi Ramadhan

SATU

Pada bumi
yang telah kuhuni
ribuan hari
Kau jadi saksi
Hanya sedikit hari
yang kuabdikan selain
untuk diri sendiri
Ribuan hari untuk
kepentingan pribadi
Lalu apa yang kuraih
Tetap saja hidup tak
bisa kukendali

DUA
Pada bumi
aku merasa rendah diri
Karena hari demi hari
yang kulalui
tak lebih dari
hari-hari
yang selalu kuulangi
Lalu bagaimana dengan usia?
boleh jadi sebenarnya telah berhenti lama
Bagaimana dengan pengalaman?.
mungkin tak lebih dari
kejadian setahun yang ku-ulang-ulang

TIGA
Pada bumi yang kutempati
sejak lahir hingga kini.
Kau pasti mengerti
Berapa rencana amal baikku
yang tak terealisasi
karena selalu kutunda
sampai datang waktu sempurna
yang tak kunjung tiba

EMPAT
Pada bumi harus kuakui
Aku memberi
tak sebanyak aku menerima
Lalu siapa yang memikul defisit-ku
selain para penghuni bumi yang kubebani
dan atas kemurahan Ilahi

LIMA
Pada bumi aku malu
Karena terkadang aku bangga
saat terlalu banyak menerima,
bahkan kuanggap sebagai bukti
bahwa aku selalu disayangi
para penghuni bumi.

ENAM
Bumi jangan kau tertawai
Saat aku ingin diperlakukan istimewa
oleh sesama manusia
Juga saat aku ingin di anak-emaskan
bahkan oleh orang yang baru kutemui di jalan
Karena aku butuh bukti bahwa
aku adalah manusia
yang cukup layak untuk dicinta

TUJUH
Pada bumi
Mungkin kau menangisi
Saat tahu hanya secuil waktu
yang kugunakan untuk menimba
ilmu dari kitab cahaya
sumber ilmu kehidupan,
dan pedoman mencari arti
kehadiranku di dunia.
Yakni Alquran yang mulia

DELAPAN
Pada bumi yang pasti sulit memaklumi
Sedikitnya waktu malam dan siang
yang kubelanjakan untuk
meraih surga yang kau tahu
tidak murah harganya.
Maka
menangislah untuk diriku,
basuhlah tumpukan debu di jendela hatiku
dengan air matamu,
agar pintu-pintu menuju surga,
terlihat jelas di mataku.

Karya: Undil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts